SELAT SUNDA //MSN,
Duka kembali datang dari lautan. Ketika bencana kebakaran hutan dan lahan masih menyisakan asap dan sesak bagi masyarakat, kabar memilukan kembali menghantam negeri: delapan orang di Selat Sunda belum ditemukan, sementara sekitar 140 orang dalam tragedi KM Virgo Transport 8 masih dalam pencarian.
Di Selat Sunda, lima wartawan bersama tiga awak kapal hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah speedboat KM Arupadhatu 1 yang mereka tumpangi hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik, Minggu.(13/9/26)
Mereka berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 yang lalu sekitar pukul 14.00 WIB, untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Komunikasi terakhir tercatat sekitar pukul 14.42 hingga 15.04 WIB. Setelah itu, tidak ada lagi kabar.
Lima (5) wartawan yang dilaporkan hilang yakni M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal Husni, jurnalis lepas.
Tiga lainnya merupakan awak kapal, yakni Warta, kapten berusia 55 tahun; Surakman, ABK berusia 60 tahun; dan Heriyanto, pemandu berusia 49 tahun.
Mereka berangkat membawa kamera, peralatan jurnalistik, dan keberanian untuk mengabarkan peristiwa kepada publik.
Kini, ironisnya, mereka sendiri menjadi kabar yang sedang ditunggu.
SAR DIPERLUAS, HARAPAN BELUM PADAM
Tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI AL, Polri, dan unsur terkait terus melakukan pencarian.
Area pencarian disebut telah diperluas hingga sekitar 6.010 mil laut persegi dan dibagi menjadi enam sektor. Puluhan kapal serta helikopter dikerahkan untuk menyisir wilayah laut yang luas.
Sejumlah benda sempat ditemukan di tengah operasi pencarian, di antaranya jeriken minyak berwarna biru, jaket pelampung oranye, dan helm.
Harapan sempat tumbuh.
Namun berdasarkan informasi yang diperoleh, benda-benda tersebut kemudian dikonfirmasi bukan milik kapal maupun rombongan yang sedang dicari.
Pencarian pun terus berlanjut.
VIRGO TRANSPORT 8 HILANG KONTAK, ENAM MENINGGAL
Di saat operasi pencarian di Selat Sunda belum menemukan titik terang, tragedi lain terjadi di Laut Jawa.
KM Virgo Transport 8, kapal motor penumpang yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA, Minggu, 13 September 2026.
Sebelumnya kapal dilaporkan menghadapi cuaca buruk dan mengalami listing, atau kondisi kapal miring.
Jumlah penumpang dan awak di dalam kapal dilaporkan mencapai 243 orang.
Dalam proses evakuasi, sejumlah korban berhasil diselamatkan oleh kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi.
TB Mauhaw IX dilaporkan menyelamatkan 16 orang, dengan 15 selamat dan satu meninggal dunia.
TB TCP mengevakuasi 38 orang, dengan 33 selamat dan lima meninggal dunia.
Sementara MV Haida membawa 49 orang dan seluruhnya dilaporkan selamat.
Dengan demikian, enam orang dinyatakan meninggal dunia, sementara sekitar 140 orang lainnya masih dalam pencarian, berdasarkan data sementara yang tersedia.
Angka itu mungkin hanya terlihat seperti deretan digit.
Namun bagi keluarga korban, 140 bukan sekadar angka.
Di balik angka itu ada nama.
Ada ibu yang menunggu anaknya.
Ada anak yang menunggu ayahnya.
Ada suami yang belum pulang.
Ada istri yang mungkin masih menatap layar telepon, berharap satu panggilan masuk mengakhiri ketidakpastian.
Dan ada keluarga yang belum berani menangis karena masih menggantungkan harapan pada satu kemungkinan:
Orang yang mereka cintai masih hidup.
LAUT BOLEH LUAS, PENCARIAN JANGAN BERHENTI
Operasi SAR terus dilakukan. Kapal dikerahkan. Helikopter menyisir udara. Wilayah pencarian diperluas.
Namun bagi keluarga korban, seluruh operasi itu bermuara pada satu harapan sederhana:
Temukan mereka.
Jika masih hidup, selamatkan.
Jika telah menjadi korban, temukan dan pulangkan kepada keluarga.
Sebab bagi keluarga, kepastian adalah bagian penting dari perjuangan menghadapi kehilangan.
Dua tragedi laut dalam waktu berdekatan kembali mengingatkan bahwa di balik perjalanan dan aktivitas manusia di laut, selalu ada risiko yang tidak boleh dianggap remeh—terutama ketika cuaca buruk menjadi ancaman.
Di Selat Sunda, delapan orang masih menjadi bagian dari operasi pencarian.
Di Laut Jawa, enam orang telah dinyatakan meninggal dunia dan sekitar 140 orang masih dicari.
Laut memang luas.
Tetapi bagi keluarga korban, hari ini laut terasa jauh lebih luas.
Terlalu luas untuk menemukan satu wajah.
Terlalu dalam untuk mendengar satu suara.
Dan terlalu sunyi untuk menjawab satu pertanyaan:
“Di mana mereka?”
Semoga operasi SAR membuahkan hasil.
Semoga mereka yang masih hidup segera ditemukan dan diselamatkan.
Semoga mereka yang telah meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Dan semoga keluarga yang masih menunggu diberi kekuatan.
Sebab mungkin malam ini ada rumah-rumah yang lampunya sengaja belum dimatikan.
Bukan karena lupa.
Tetapi karena penghuninya masih berharap seseorang akan mengetuk pintu dan berkata:
“Maaf, aku terlambat pulang.”
(Tim Redaksi)
