Kehadiran para elite Sumatera Utara (Sumut) dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 menegaskan satu hal: suara buruh kini tak lagi bisa diabaikan.
Pelaksana Harian (Plh) Kajati Sumatera Utara Herleni Setyiorini SH, MH tampak berdiri sejajar bersama Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, Wakil Gubernur H. Surya, Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, Wakapolda, hingga unsur Forkopimda lainnya dalam agenda yang digelar di Gedung Serbaguna, Jalan William Iskandar, Pancing, Kabupaten Deli Serdang.
Barisan pejabat lintas institusi—mulai dari DPRD Sumut, TNI, hingga perwakilan pertahanan udara dan laut—hadir dalam satu panggung yang sama. Kehadiran kolektif ini menjadi simbol bahwa isu ketenagakerjaan tidak lagi diposisikan sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan telah bergeser menjadi kepentingan strategis yang menuntut perhatian serius lintas sektor.
Di sisi lain, ratusan perwakilan buruh dari berbagai organisasi di Sumatera Utara memadati lokasi kegiatan. Mereka hadir bukan sekadar meramaikan acara, tetapi membawa aspirasi konkret: tuntutan upah layak, kepastian jaminan kerja, serta perlindungan hukum yang selama ini dinilai masih jauh dari harapan.
Momentum May Day 2026 di Sumatera Utara pun menjelma menjadi lebih dari sekadar peringatan simbolik.
Ia menjadi panggung politik, ruang artikulasi tekanan publik, sekaligus ujian terbuka bagi para pemegang kebijakan—apakah kehadiran mereka berhenti pada seremoni, atau benar-benar diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan buruh.

