-->

News

Alarm Keras di SBB! Posyandu Disorot: Stunting & Nikah Dini Masih Mengintai

Admin

 


Seram Bagian Barat-Maluku //MSN,

Peringatan Hari Posyandu di SBB mendadak “panas”. Bukan sekadar seremoni, isu serius langsung disorot: stunting belum tuntas, pernikahan dini masih terjadi.

Di Dusun Taman Jaya, Desa Piru, Selasa (29/4/2026), Ketua Tim Pembina (TP) Posyandu SBB, Yeni Rosbayani Asri, angkat bicara tegas. Ia mengingatkan, Posyandu tak boleh lagi berjalan “biasa-biasa saja”.

“Kalau Posyandu lemah, dampaknya ke seluruh pelayanan kesehatan,” tegasnya tanpa basa-basi.

Pernyataan ini jadi sinyal kuat: pelayanan dasar di tingkat bawah sedang diuji.

Yeni juga menyinggung fakta di lapangan—tanggung jawab sering hanya dibebankan ke pemerintah. Padahal, menurutnya, tanpa keterlibatan masyarakat dan desa, hasilnya tak akan maksimal.

“Ini tanggung jawab bersama. Tidak bisa setengah-setengah,” ujarnya.


🔥 Dua Isu Disorot Tajam

Stunting masih jadi ancaman nyata

Pernikahan usia dini dinilai berdampak serius pada masa depan generasi

Menurut Yeni, SBB sebenarnya punya potensi besar, terutama sumber daya laut. Namun jika tidak dimanfaatkan, masalah gizi akan terus berulang.

“Kita punya ikan melimpah, tapi kalau konsumsi rendah, stunting tetap tinggi,” sentilnya.

Tak hanya itu, beban kader Posyandu juga disebut makin berat. Transformasi layanan menuntut mereka bekerja lebih kompleks, sementara dukungan belum selalu sebanding.

Posyandu Dipaksa Berubah Pemkab SBB kini mendorong Posyandu keluar dari pola lama. Lewat penerapan 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM), Posyandu dituntut jadi pusat layanan terpadu—bukan sekadar timbang bayi.

Dalam kegiatan ini, masyarakat mendapat layanan langsung: pemeriksaan kesehatan, edukasi, hingga bantuan bagi anak stunting dan ibu hamil.

(S. Adam)

Share:
Komentar

Berita Terkini