Jakarta // MSN,
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menolak usulan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) diubah menjadi bantuan tunai bagi orang tua siswa. Alasan yang disampaikan cukup klasik: bantuan uang dianggap rawan disalahgunakan dan tidak menjamin benar-benar dibelanjakan untuk kebutuhan gizi anak, Kamis.(12/3/26)
Namun penolakan ini juga memunculkan pertanyaan baru. Jika negara tidak percaya uang bantuan akan digunakan dengan benar oleh keluarga, sejauh mana negara juga percaya pada kemampuan keluarga dalam mengatur kebutuhan anaknya sendiri?.
BGN tetap bersikeras mempertahankan skema pemberian makanan langsung. Skema ini disebut lebih efektif karena memastikan anak benar-benar menerima asupan gizi, sekaligus menghindari tumpang tindih dengan bantuan sosial lain seperti BLT. Selain itu, program ini juga diklaim dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui kebutuhan bahan pangan dari petani dan pelaku usaha sekitar.
Beberapa argumen yang disampaikan pemerintah antara lain:
1. Risiko penyalahgunaan – Bantuan tunai dianggap berpotensi tidak digunakan untuk kebutuhan gizi anak.
2. Tujuan program – MBG dirancang sebagai intervensi gizi langsung kepada anak, bukan sekadar tambahan uang bagi keluarga.
3. Dampak ekonomi lokal – Distribusi makanan dinilai bisa membuka rantai pasok baru bagi petani, peternak, dan UMKM pangan.
4. Kepastian asupan nutrisi – Dengan makanan yang disediakan langsung, negara dapat mengontrol kualitas dan komposisi gizi.
Meski begitu, perdebatan belum sepenuhnya selesai. Sebagian pihak menilai persoalannya bukan sekadar memilih antara makanan atau uang, melainkan bagaimana memastikan program benar-benar efektif, transparan, dan tidak berubah menjadi proyek besar yang menyerap anggaran tanpa pengawasan yang memadai.(Red/Tim)
