MEDAN // MSN,
Gelombang perlawanan buruh kembali mengguncang Kota Medan. Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat (AKBAR) Sumatera Utara turun ke jalan pada Jum'at (01/05/2026), memperingati Hari Buruh Internasional dengan satu pesan tegas: cukup sudah ketidakadilan!
Aksi ini bukan sekadar seremonial tahunan. Ini adalah akumulasi kemarahan panjang atas praktik upah murah, ketidakpastian kerja, dan pembungkaman terhadap suara buruh yang terus terjadi tanpa penyelesaian nyata.
Massa aksi terdiri dari berbagai elemen—mulai dari organisasi buruh, mahasiswa, hingga lembaga bantuan hukum—di antaranya Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Serikat Pekerja Multi Sektor (SPMS), serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Mereka bersatu dalam satu barisan: melawan ketimpangan yang dianggap semakin brutal.
Dalam aksi tersebut, AKBAR Sumut melontarkan 21 tuntutan keras yang menyasar langsung kegagalan sistem ketenagakerjaan saat ini. Di antaranya:
Menolak tegas skema upah murah dan mendesak pemberlakuan upah layak
Menuntut pendidikan gratis, demokratis, dan berpihak pada rakyat
Menghentikan diskriminasi terhadap kelompok rentan di dunia kerja
Mendesak pendampingan hukum yang benar-benar membela buruh
Menuntut pembentukan tim penetapan upah yang transparan dan independen
Menolak praktik union busting yang dinilai makin masif di pabrik-pabrik
Mendesak kepastian status kerja bagi buruh kontrak dan outsourcing
Memperkuat pengawasan ketenagakerjaan yang selama ini dinilai lemah
AKBAR menilai, selama ini negara terkesan lamban bahkan abai dalam melindungi buruh. Regulasi dianggap lebih sering menguntungkan pemilik modal ketimbang pekerja yang menjadi tulang punggung produksi.
“Ini bukan sekadar tuntutan, ini ultimatum. Jika terus diabaikan, gelombang perlawanan akan semakin besar,” tegas salah satu orator di tengah aksi.
Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat aparat, namun semangat massa tidak surut. Medan hari ini menjadi saksi bahwa buruh tidak lagi ingin diam—mereka menuntut perubahan nyata, bukan janji kosong.
Hari Buruh bukan lagi seremoni. Ini adalah peringatan keras bagi penguasa: buruh sedang melawan.(Red/Tim)



