LANGKAT //MSN,
Kasus yang sempat memicu saling lapor dan menyedot perhatian publik—terutama setelah viralnya pengakuan seorang siswi yang mengaku dijadikan tersangka usai membela ayahnya—akhirnya berujung damai.
Melalui Forum Silaturahmi Forkopimda Kabupaten Langkat, para pihak yang berselisih dipertemukan dalam satu meja dialog terbuka pada Sabtu malam, 18 April 2026, di rumah dinas Bupati Langkat.
Pertemuan ini difasilitasi langsung oleh unsur pimpinan daerah, mulai dari Kapolres, Bupati, DPRD, hingga Kejaksaan Negeri Langkat, sebagai respons atas polemik yang berkembang luas di tengah masyarakat.
Konflik tersebut melibatkan Japet Imanta Bangun bersama anaknya L—yang sempat viral di media sosial—dengan pihak Indra Putra Bangun, serta turut menyeret nama ananda Lolita.
Kapolres Langkat, AKBP David Triyo Prasojo, menegaskan bahwa pendekatan dialog dan kekeluargaan menjadi langkah strategis untuk meredam eskalasi konflik.
“Penyelesaian melalui komunikasi terbuka ini penting, bukan hanya untuk kedua belah pihak, tetapi juga untuk menjaga stabilitas kamtibmas di tengah masyarakat,” ujarnya.
Forum ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh penting daerah, di antaranya:
1.Bupati Langkat H. Syah Afandin
2.Kapolres Langkat AKBP David Triyo Prasojo
3.Kasi Pidum Kejari Langkat Yoyok Adi Syahputra
4.Perwakilan DPRD Dedek Pradesa
5.Ketua FKUB H. Muhammad Ishak
6.Kacabdis Pendidikan Abdul Qodir Simorangkir
7.Tokoh adat, tokoh pemuda, hingga aparat desa setempat
8.Serta penasihat hukum dari kedua belah pihak
Dalam dialog yang berlangsung tertutup namun konstruktif, kedua pihak akhirnya sepakat menempuh jalur damai dan menandatangani kesepakatan bersama.
Kesepakatan ini sekaligus menjadi titik balik dari konflik yang sebelumnya sempat memanas di ruang publik, khususnya di media sosial.
Meski berakhir damai, kasus ini menyisakan catatan penting: bagaimana sebuah konflik personal dapat dengan cepat membesar dan menjadi sorotan nasional, serta pentingnya kehadiran negara dalam memastikan penyelesaian yang adil, transparan, dan tidak merugikan pihak mana pun—terutama anak di bawah umur.
Langkah damai ini diharapkan menjadi contoh bahwa dialog dan pendekatan humanis masih menjadi solusi paling efektif dalam meredam konflik, sekaligus menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
(Red/Tim)

