-->

News

Tahukah Anda, Enam Pahlawan Nasional Muhamadiyah Miliki Jejak Emas Ranah Minang Sumatera?

Admin

 

Medan //MSN,

Tahukah Anda? Enam Pahlawan Nasional Muhammadiyah Ini Memiliki Jejak Emas di Ranah Minang dan Sumatera, pada Minggu.(29/3/26)

Setiap tanggal 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang jasa mereka yang telah mewakafkan diri demi kemerdekaan. 

Bagi kita di Sumatera Barat, nama-nama seperti Buya Hamka atau Agus Salim mungkin sudah sangat akrab. Namun, tahukah Anda bahwa ada tokoh-tokoh besar lainnya dari rahim Muhammadiyah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Sumatera dan perjuangan nasional kita?

Berikut adalah enam Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah yang jejaknya wajib kita ketahui:

1. Lafran Pane: Sang Pendiri HMI yang Menimba Ilmu di Sekolah Muhammadiyah, Lahir di Sipirok pada 5 Februari 1922, Lafran Pane tumbuh dalam keluarga aktivis Muhammadiyah. Ayahnya adalah pendiri Muhammadiyah di Sipirok. Titik Awal Karier: Beliau meniti pendidikan dari bawah di HIS Muhammadiyah Sibolga sebelum akhirnya merantau ke Batavia.

Titik Balik: Ia mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa Islam pertama di Indonesia, dengan misi ganda: mempertahankan kemerdekaan dan meningkatkan derajat rakyat.

2. Teuku Muhammad Hasan: Gubernur Pertama Sumatera, Tokoh asal Pidie, Aceh (4 April 1906) ini adalah sosok kunci yang menyatukan wilayah Sumatera di awal kemerdekaan.

Titik Awal Karier: Ia memulai pengabdiannya dengan aktif memajukan Muhammadiyah di Aceh dan mendirikan kepanduan Hizbul Wathan pada 1928. Titik Balik: Sebagai anggota BPUPKI, ia ikut merumuskan UUD 1945 dan dipercaya menjadi Gubernur pertama seluruh provinsi Sumatera yang beribu kota di Medan.

3. H. Adam Malik: Dari Kepanduan di Sumatera Utara ke Kursi Wakil Presiden. Pria kelahiran Pematangsiantar ini adalah sosok diplomat ulung yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI (1978–1983).

Titik Awal Karier: Karier organisasi beliau dimulai sebagai anggota Kepanduan Hizbul Wathan di Pematangsiantar. Ia bahkan pernah memimpin pergerakan para sopir di kotanya.

Titik Balik: Beliau menjadi tokoh sentral dalam Deklarasi Bangkok (pembentukan ASEAN) dan berperan penting dalam kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.

4. Ir. Djuanda Kartawidjaja: Sang Penjaga Lautan Indonesia. Dikenal melalui "Deklarasi Djuanda", beliau adalah sosok yang menyatukan wilayah daratan dan lautan Nusantara menjadi satu kesatuan wilayah yang utuh.

Titik Awal Karier: Ketulusannya teruji saat ia menolak gaji besar sebagai asisten profesor demi mengabdi menjadi Direktur SMA Muhammadiyah Jakarta.

Titik Balik: Menjabat sebagai Menteri sebanyak 14 kali dan Perdana Menteri, ia berhasil memperjuangkan konsep negara kepulauan di mata internasional.

5. AR Baswedan: Diplomat Muda Muhammadiyah. Lahir di Surabaya, AR Baswedan dikenal sebagai diplomat yang berhasil mendapatkan pengakuan kedaulatan Indonesia dari negara-negara Arab.

Titik Awal Karier: Sejak usia 17 tahun, ia sudah aktif menjadi mubaligh Muhammadiyah. Ia sering diminta oleh KH. Mas Mansoer untuk berdakwah ke berbagai daerah.

Titik Balik: Ia dipercaya menjadi anggota BPUPKI mewakili golongan Arab dan menjadi bagian dari misi diplomatik pertama Indonesia ke luar negeri.

6. dr. Sutomo: Dokter Bumiputera Penasihat Kesehatan Muhammadiyah

Pendiri Budi Utomo ini bukan hanya seorang dokter yang kompeten, tetapi juga tokoh yang sangat peduli pada pelayanan kesehatan rakyat kecil.

Titik Awal Karier: Ia memulai dedikasinya di Muhammadiyah sebagai Medisch Adviseur (Penasihat Medis) PKO Muhammadiyah (sekarang RS PKU).

Titik Balik: Melalui pidatonya saat pembukaan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya pada 1924, ia menggerakkan kesadaran pentingnya rumah sakit modern bagi warga pribumi.

Keenam tokoh ini membuktikan bahwa semangat Muhammadiyah—yang juga berakar kuat di Sumatera Barat—telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya ahli dalam agama, tapi juga mumpuni dalam politik, diplomasi, dan kemanusiaan. Kisah mereka adalah pengingat bagi kita semua bahwa perjuangan bisa dimulai dari bangku sekolah atau organisasi kecil di daerah.

(Red/Tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini