BISHKEK // MSN
25 Tahun SCO: Putin, Xi, Modi hingga Pezeshkian Duduk Satu Meja, Konflik Global Belum Reda, Ibu kota Kirgistan, Bishkek, menjadi panggung pertemuan para pemimpin negara berpengaruh dalam peringatan 25 tahun Shanghai Cooperation Organisation (SCO).
Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian hadir dalam forum yang mempertemukan negara-negara dengan kepentingan geopolitik berbeda—bahkan sejumlah di antaranya masih terlibat konflik atau perselisihan.
Di dalam ruang pertemuan terdengar bahasa diplomasi: kerja sama, persahabatan dan dunia multipolar. Di luar, perang, sanksi, sengketa wilayah, persaingan dagang dan energi tetap menjadi realitas, Selasa.(1/9/26)
Para pemimpin bisa duduk bersama. Dunia belum tentu menjadi lebih aman.
PUTIN DAN PESAN ANTI-ISOLASI
Putin datang dengan sejumlah agenda bilateral, termasuk pertemuan dengan Xi, Modi dan Pezeshkian.
Bagi Kremlin, kehadiran Rusia di tengah para pemimpin negara anggota SCO menjadi pesan bahwa tekanan Barat belum membuat Moskow kehilangan ruang diplomatik.
Namun pertemuan bilateral tidak otomatis berarti kesamaan kepentingan.
CHINA MEMPERKUAT PENGARUH DI ASIA TENGAH
Xi Jinping menandatangani sejumlah kesepakatan dengan Presiden Kirgistan Sadyr Japarov mengenai persahabatan, hubungan bertetangga baik dan kerja sama jangka panjang.
Berbagai dokumen bilateral juga mencakup sektor perdagangan, kepabeanan dan hubungan antarkota.
Bagi Kirgistan, kerja sama dengan China membuka peluang ekonomi. Bagi Beijing, Asia Tengah merupakan kawasan strategis untuk konektivitas, perdagangan dan pengaruh regional.
Bahasa diplomasi boleh berbunyi “persahabatan”. Kepentingan strategis tetap menjadi catatan kaki yang tak boleh diabaikan.
MODI: TIDAK TERKUNCI DALAM SATU KUBU
Narendra Modi kembali memperlihatkan karakter politik luar negeri India yang berusaha mempertahankan ruang gerak strategis.
India tetap menjaga hubungan dengan Rusia, memperluas kerja sama dengan Barat, sekaligus menghadapi persoalan keamanan dengan China dan Pakistan.
Dalam pertemuannya dengan Putin, Modi menekankan bahwa perang yang berlangsung setiap hari justru membuat umat manusia mengalami kemunduran.
Pesannya jelas: diplomasi harus tetap membuka jalan, meski kepentingan nasional masing-masing negara tidak selalu sama.
SCO BESAR, TAPI SEBERAPA KUAT?
Setelah 25 tahun, SCO memiliki 10 anggota penuh, dengan cakupan lebih dari 40 persen populasi dunia dan sekitar seperempat PDB global.
Namun besarnya angka tidak otomatis membuat organisasi ini menjadi blok politik yang solid.
India-China masih memiliki sengketa perbatasan. India-Pakistan tetap dibayangi konflik. Rusia masih menghadapi perang dan tekanan Barat. Iran juga berada dalam tekanan geopolitik.
Karena itu, SCO lebih tepat dipandang sebagai ruang kerja sama dan tawar-menawar strategis, bukan aliansi militer anti-Barat.
Sejumlah analis juga melihat forum ini sebagai bentuk hedging: negara-negara anggota menjaga berbagai pilihan tanpa sepenuhnya masuk ke satu kubu.
DOKUMEN MENYUSUL, DIPLOMASI SUDAH BERJALAN
Deklarasi Bishkek dan sejumlah dokumen utama KTT dijadwalkan ditandatangani pada 1 September.
Secara sederhana: ulang tahunnya dirayakan dulu, kuenya datang kemudian.
Namun memang begitulah diplomasi. Foto bersama tidak selalu berarti kepentingan sudah sama. Jabat tangan tidak otomatis menghapus konflik.
KOMENTAR REDAKSI
Setelah 25 tahun, pertanyaan terbesar bagi SCO bukan lagi siapa yang hadir, melainkan apa yang mampu mereka hasilkan.
SCO berhasil membuat negara-negara yang berbeda kepentingan duduk di satu meja tanpa harus menjadi sekutu.
Itu bukan pencapaian kecil.
Tetapi jika perang masih berlangsung, sengketa wilayah belum selesai dan rivalitas kekuatan besar terus meningkat, maka klaim bahwa dunia menjadi lebih aman jelas masih harus dibuktikan.
Formula SCO tampaknya sederhana:
Koeksistensi tanpa harus sepakat.
Kerja sama tanpa harus saling percaya sepenuhnya.
Diplomasi tanpa harus menjadi satu blok.
Para pemimpin mungkin pulang membawa foto.
Dunia masih menunggu hasilnya.
Karena pertanyaan akhirnya bukan siapa yang berjabat tangan di Bishkek, tetapi apakah setelah itu dunia benar-benar menjadi lebih aman.

