NIAS//MSN,
Upaya menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari identitas masyarakat Nias mendapat perhatian dalam kegiatan Gotong Royong Konservasi Cagar Budaya HO bertema “Merawat Warisan, Menjaga Peradaban” di Desa Lahemo, Kecamatan Gido, Sabtu (26/09/2026).
Bupati Nias Barat, Dr. Eliyunus Waruwu, S.Pt., M.Si., M.M., yang menghadiri kegiatan tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, melindungi dan melestarikan cagar budaya sebagai warisan yang memiliki nilai sejarah bagi generasi sekarang dan mendatang.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan diskusi pelestarian cagar budaya, pembentukan Perkumpulan Konservasi Cagar Budaya Ngaötö Tuada HO, serta peletakan batu pertama Tugu Tuada HO.
Sedikit uraian redaksi tentang tuada HO.
- Asal-usul dan Migrasi: Tuada Ho diyakini bermigrasi dan menetap di kawasan lembah Gidö (sekarang masuk wilayah Desa Lahemo, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias) sekitar tahun 600 Masehi. Ia dianggap sebagai salah satu manusia atau generasi leluhur awal yang mendiami Pulau Nias. [1, 2]
- Cikal Bakal Marga-Marga Besar: Dari keturunannya, lahir marga-marga besar di Nias.
- Melalui istrinya yang bernama Nandrua (Nandua), ia menurunkan marga seperti Waruwu, Gulo, Halawa, dan Ndraha (atau Marga Fuhu/Baruhu).
- Melalui istri keduanya (Sauso Lama), ia menurunkan keturunan kelompok Lukhu yang kemudian menjadi cikal bakal marga Zendrato, Harefa, Mindova, hingga Laoli
- Warisan Sejarah (Situs Megalitikum): Makam dan peninggalan Tuada Ho di Desa Lahemo kini menjadi Situs Cagar Budaya penting di Nias. Di situs tersebut terdapat batu-batu megalitikum purba, salah satunya batu bekas telapak kaki dan tongkat yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai bukti kesaktian Tuada Ho di masa lampau. [1, 2]


