-->
News

Final Piala Dunia: 22 Orang Mengejar Bola, Jutaan UMKM Mengejar Cuan!

Admin

SUMUT // MSN,

Malam ini, mata dunia tertuju pada final Piala Dunia. Di lapangan, 22 pemain akan bertarung memperebutkan trofi paling bergengsi di sepak bola. Namun di Indonesia, pertandingan itu menghadirkan tontonan lain yang tak kalah menarik: jutaan pelaku UMKM berlomba mengejar omzet.

Boleh jadi Argentina melawan Spanyol. Namun jika melihat suasana di berbagai kota di Indonesia, orang asing bisa saja mengira Garuda-lah yang sedang berlaga di partai puncak. Dari Jakarta hingga Pontianak, Bengkulu, Kupang, Sanggau, bahkan daerah-daerah terpencil, masyarakat berbondong-bondong menggelar nonton bareng (nobar).

Indonesia memang belum pernah tampil di final Piala Dunia. Tetapi dalam urusan euforia, rasanya kita sudah lama menjadi juara dunia.

Yang menarik, pesta sepak bola kali ini bukan hanya soal siapa mengangkat trofi. Ada roda ekonomi yang ikut berputar. Warung kopi penuh, pedagang gorengan kebanjiran pembeli, penjual sate tak berhenti mengipas bara, hingga hotel, restoran, dan kafe menikmati lonjakan pelanggan.

Inilah fenomena unik Indonesia. Di lapangan, 22 orang mengejar bola. Di luar stadion, jutaan pelaku UMKM mengejar rezeki.

TVRI, yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, justru menjadi pemain penting dengan menayangkan seluruh pertandingan secara gratis. Dampaknya terasa nyata. Akses siaran yang luas mendorong lahirnya ribuan titik nobar di berbagai daerah.

Data menunjukkan mayoritas masyarakat mengikuti sedikitnya satu kali kegiatan nobar selama Piala Dunia. Jika rata-rata setiap orang membelanjakan sekitar Rp50 ribuan untuk makanan dan minuman, akumulasi transaksi yang tercipta mencapai angka yang fantastis. Nilai perputaran uang bahkan diperkirakan menembus sekitar Rp5 triliun.

Bagi sebagian orang, Rp50 ribu mungkin terlihat kecil. Namun ketika dibelanjakan oleh jutaan orang secara bersamaan, nilainya berubah menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat.

Yang menikmati bukan perusahaan besar, melainkan pelaku usaha kecil yang selama ini berjuang menghadapi berbagai tantangan. Penjual kopi, bakso, mie rebus, jagung bakar, gorengan hingga minuman dingin menjadi pihak yang paling merasakan manfaat euforia sepak bola.

Menariknya lagi, pemerintah memberikan ruang bagi komunitas dan UMKM untuk menggelar nobar melalui mekanisme perizinan tertentu. Kebijakan ini membuka peluang ekonomi yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan.

Di berbagai daerah, pemerintah daerah bahkan ikut memfasilitasi kegiatan nobar yang dipadukan dengan bazar UMKM. Hasilnya sederhana tetapi berdampak besar: masyarakat mendapat hiburan, pedagang memperoleh penghasilan, dan ekonomi lokal bergerak.

Fenomena ini membuktikan bahwa olahraga tidak selalu menghasilkan manfaat hanya bagi atlet atau penyelenggara. Ketika dikelola dengan baik, sebuah pertandingan internasional mampu menjadi stimulus ekonomi bagi masyarakat kecil.

Barangkali Indonesia belum mampu mencetak gol di putaran final Piala Dunia. Namun kita telah menunjukkan kemampuan lain yang tidak kalah penting, yakni menciptakan peluang ekonomi dari sebuah momentum global.

Malam ini, siapa pun yang akhirnya mengangkat trofi dunia tentu layak mendapat tepuk tangan. Namun jangan lupa memberikan apresiasi kepada para pedagang kecil yang sejak sore telah menyiapkan dagangannya demi menyambut ribuan penonton nobar.

Sebab bagi mereka, setiap gol yang tercipta bukan sekadar menambah skor pertandingan. Setiap sorak sorai penonton bisa berarti satu porsi bakso lagi terjual, satu termos kopi lagi habis, satu keluarga lagi dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di Indonesia, Piala Dunia bukan hanya festival sepak bola.

Ia telah berubah menjadi festival ekonomi kerakyatan, tempat 22 pemain mengejar bola, sementara jutaan pelaku UMKM mengejar harapan dan rezeki.

Karena boleh jadi trofi Piala Dunia dibawa pulang sang juara. Tetapi kemenangan ekonomi malam ini, bisa jadi justru dirasakan oleh UMKM Indonesia.(PJS)

Share:
Komentar

Berita Terkini