Medan // MSN,
Nama Yenna Yuniana kini menjadi sorotan setelah perusahaannya dikaitkan sebagai pemenang proyek motor listrik dalam program MBG. Di balik narasi sukses dari nol, muncul pertanyaan serius terkait skala proyek, mekanisme pengadaan, serta pembanding dengan proyek kendaraan listrik lain di Indonesia.
Berdasarkan penelusuran, proyek pengadaan motor listrik untuk program MBG berada pada skala yang sangat besar. Tercatat, kebutuhan mencapai sekitar 25.000 unit dengan nilai anggaran yang diperkirakan menembus lebih dari Rp2,4 triliun melalui skema pengadaan pemerintah.
Namun, hingga saat ini, realisasi baru mencapai sekitar 21.801 unit dan sebagian kendaraan disebut belum dimanfaatkan secara optimal, memunculkan indikasi potensi “idle asset” dalam pengelolaan anggaran negara, Senin.(13/4/26)
Perbandingan dengan Proyek Sejenis
Sebagai pembanding, proyek kendaraan listrik di Indonesia umumnya memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi skala, transparansi, maupun kesiapan ekosistem:
Industri motor listrik nasional (Gesits)
Gesits Motor Nusantara merupakan contoh pengembangan kendaraan listrik berbasis manufaktur dalam negeri. Perusahaan ini dibangun dengan kapasitas produksi bertahap dan melalui uji kelayakan teknis sebelum masuk produksi massal. Pendekatan ini menekankan kesiapan produk sebelum distribusi luas.
Ekosistem kendaraan listrik (battery swapping & infrastruktur)
Perusahaan seperti Oyika justru fokus pada pembangunan ekosistem pendukung seperti stasiun penukaran baterai (battery swapping), menunjukkan bahwa keberhasilan kendaraan listrik tidak hanya pada pengadaan unit, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung.
Industri mobil listrik (Wuling/SGMW)
SGMW Motor Indonesia mengembangkan kendaraan listrik melalui investasi pabrik, rantai pasok, dan produksi jangka panjang, bukan melalui pengadaan massal instan. Investasi industri ini bahkan mencapai ratusan juta dolar dan berorientasi pada keberlanjutan produksi nasional.
Perbedaan Mendasar yang Disorot
Jika dibandingkan, proyek MBG memiliki sejumlah perbedaan signifikan:
- Skala pengadaan langsung besar (bulk procurement).
- Tidak bertahap seperti industri manufaktur.
- Distribusi dan pemanfaatan belum optimal
- Ribuan unit disebut belum digunakan, berbeda dengan proyek lain yang berbasis demand dan kesiapan operasional.
Minim transparansi publik
Tidak semua data pengadaan muncul secara terbuka dalam sistem tender konvensional, memunculkan pertanyaan terkait mekanisme yang digunakan.
Ekosistem pendukung belum jelas
Berbeda dengan model lain yang menyiapkan charging station atau battery swapping terlebih dahulu.
Pertanyaan Kunci yang Menguat
Dengan adanya perbandingan tersebut, sejumlah pertanyaan investigatif semakin menguat:
- Apakah kapasitas perusahaan pemenang proyek telah sebanding dengan nilai proyek triliunan rupiah?
- Mengapa pengadaan dilakukan sebelum kesiapan distribusi dan operasional matang?
- Apakah mekanisme e-katalog cukup menjamin transparansi untuk proyek sebesar ini?
- Bagaimana pengawasan terhadap potensi pemborosan anggaran jika aset belum dimanfaatkan?
Di sisi lain, kisah perjalanan Yenna Yuniana dari latar belakang sederhana tetap menjadi bagian menarik dari narasi publik. Namun dalam konteks proyek strategis nasional, perhatian tidak lagi semata pada figur, melainkan pada tata kelola, akuntabilitas, dan dampak nyata terhadap masyarakat.
Pengamat menilai, perbandingan dengan proyek kendaraan listrik lain menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh pengadaan unit, tetapi oleh integrasi antara produksi, distribusi, dan ekosistem pendukung.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi yang komprehensif dari pihak terkait mengenai keseluruhan proses pengadaan, pemilihan vendor, serta kesiapan operasional proyek motor listrik MBG.
Kasus ini berpotensi menjadi ujian penting bagi komitmen transparansi dalam proyek energi dan transportasi masa depan Indonesia.
(Red/Tim)
