Sumatera Utara // MSN,
Selama dua dekade terakhir, ekonomi Indonesia bergerak layaknya mesin yang tangguh—stabil, namun cenderung melaju lambat.
Sejak Tahun 2004 yang lalu, pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen, hanya sesekali menyentuh angka 6 persen saat terjadi lonjakan harga komoditas, sebelum kembali melandai.
Bahkan setelah pandemi, ketika ekonomi sempat terkontraksi hingga –2,07 persen pada 2020, pemulihan yang terjadi hanya membawa Indonesia kembali ke “zona nyaman” di level 5 persen, Senin.(23/3/26)
Pada Tahun 2024, ekonomi tumbuh 5,03 persen, dan diproyeksikan naik tipis menjadi 5,11 persen pada 2025. Target pertumbuhan 8 persen, oleh karena itu, bukan sekadar ambisi.
Ini adalah tuntutan lompatan struktural—sesuatu yang belum berhasil dicapai secara konsisten dalam 20 tahun terakhir.
Masalahnya bukan pada kurangnya program. Pemerintah telah aktif meluncurkan berbagai kebijakan, mulai dari bantuan sosial, subsidi, hingga program makan bergizi gratis. Instrumen ini terbukti efektif menjaga konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, konsumsi hanya menjaga mesin tetap hidup—bukan membuatnya melaju lebih cepat.
Untuk mencapai pertumbuhan 8 persen, Indonesia membutuhkan perubahan mendasar pada struktur ekonominya melalui lima strategi utama:
1. Lonjakan Investasi yang Signifikan
Rasio investasi Indonesia saat ini berada di kisaran 30 persen terhadap PDB—cukup untuk mempertahankan pertumbuhan 5 persen, tetapi belum memadai untuk mencapai 8 persen. Negara seperti Tiongkok dan Vietnam mampu mendorong investasi hingga 35–40 persen dari PDB.
Tantangan utamanya bukan hanya pada jumlah investasi, tetapi juga efisiensi. Tingginya ICOR Indonesia (sekitar 6) menunjukkan bahwa investasi belum optimal dalam menghasilkan pertumbuhan. Tanpa reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, dan penurunan biaya logistik, peningkatan investasi tidak akan efektif.
2. Industrialisasi yang Nyata dan Terintegrasi
Hilirisasi perlu berkembang menjadi industrialisasi yang utuh. Ketergantungan pada komoditas membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi global.
Indonesia perlu beralih ke manufaktur bernilai tambah tinggi seperti elektronik, permesinan, dan integrasi dalam rantai pasok global.
3. Ekspor sebagai Mesin Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia masih terlalu berorientasi domestik. Meskipun ekspor diproyeksikan tumbuh sekitar 7 persen pada 2025, kontribusinya masih terbatas.
Berbeda dengan Vietnam yang menjadikan ekspor sebagai tulang punggung ekonomi, Indonesia perlu memperkuat orientasi ke pasar global untuk mencapai pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan.
4. Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja
Indonesia memiliki tenaga kerja melimpah, tetapi produktivitasnya masih rendah. Banyak pekerja berada di sektor informal dengan nilai tambah minim.
Transformasi menuju sektor industri dan jasa modern menjadi kunci agar bonus demografi benar-benar menghasilkan pertumbuhan ekonomi.
5. Reorientasi Kebijakan Fiskal
Belanja negara selama ini cenderung defensif, berfokus pada menjaga daya beli. Ke depan, APBN perlu lebih diarahkan pada sektor produktif seperti industri, teknologi, riset, dan pendidikan. APBN harus menjadi motor penggerak pertumbuhan, bukan sekadar alat stabilisasi.
Mencapai pertumbuhan 8 persen tidak dapat dilakukan dengan pendekatan biasa. Dibutuhkan keberanian untuk mengubah paradigma pembangunan—dari konsumsi ke produksi, dari orientasi domestik ke global, serta dari stabilitas menuju ekspansi.
Selama 20 tahun terakhir, Indonesia telah membuktikan ketahanannya dengan pertumbuhan rata-rata di kisaran 4,7–4,9 persen. Namun, stabilitas tersebut kini justru menjadi batas yang menahan potensi lebih besar.
Tantangan utama Indonesia hari ini bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan, tetapi berani keluar dari zona nyaman 5 persen dan membangun mesin ekonomi baru yang mampu melaju dua kali lebih cepat.(Red/Tim)
Sumber: Bung Joe Sidjabat - Pimpinan Umum MSN ID

