Teheran // MSN,
Seorang ulama senior Iran, Ayatollah Mansour Emami, menawarkan hadiah sebesar 100 miliar toman atau setara dengan Rp 18,5 miliar bagi siapa pun yang berhasil membunuh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan membawa kepalanya sebagai bukti. Tawaran mengejutkan ini memicu keprihatinan internasional dan memperburuk ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan oleh Emami, yang menjabat sebagai Direktur Penyebaran Islam di Provinsi Azerbaijan Barat, dalam sebuah acara keagamaan. Ia menuduh Trump sebagai “penjahat perang” yang bertanggung jawab atas pembunuhan tokoh militer Iran, Jenderal Qassem Soleimani, dan menyerukan “pembalasan yang setimpal.”
Tawaran tersebut disertai dengan dukungan dari 12 ulama garis keras Iran, yang menerbitkan fatwa resmi terhadap Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam fatwa tersebut, keduanya disebut sebagai “infidel combatants” atau musuh Islam yang sah untuk dibunuh menurut hukum syariat. Situs thaar.ir, yang terkait dengan kelompok garis keras, mengklaim telah menghimpun lebih dari US$20 juta (sekitar Rp324 miliar) sebagai dana hadiah.
Menanggapi eskalasi ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak mencerminkan kebijakan resmi pemerintah Iran. Ia menyatakan bahwa pemerintahannya lebih memilih jalur diplomasi dan menghindari provokasi yang berisiko memperbesar konflik global.
Tawaran imbalan dan fatwa tersebut muncul di tengah ketegangan berkepanjangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketegangan meningkat pasca “perang 12 hari” dan serangkaian serangan yang menargetkan situs-situs strategis Iran. Banyak pihak menilai bahwa fatwa ini berpotensi memicu aksi terorisme dan membahayakan stabilitas internasional.
Pemerintah Amerika Serikat sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait ancaman terhadap Presiden Trump, namun sumber intelijen menyebutkan bahwa pengamanan terhadap kepala negara telah ditingkatkan secara signifikan.
Catatan redaksi: Redaksi menolak segala bentuk kekerasan dan pembunuhan sebagai cara menyelesaikan konflik politik. Pemberitaan ini disampaikan demi kepentingan informasi publik dan transparansi global.(Red/Tim)
Sumber : thesuncom