-->


News

Yenny Wahid: Cara Memilih Ketum PBNU Bukan Tujuan Akhir, Persatuan NU Harus Tetap Dijaga

Admin

 


JAWA TIMUR //MSN,

Ketua Badan Pengembangan Inovasi Strategis (BPIS) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, menegaskan bahwa mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU, baik dilakukan secara terbuka maupun tertutup, pada hakikatnya hanyalah sarana untuk mencapai tujuan utama Muktamar, pada Minggu.(30/8/26)

Pernyataan tersebut disampaikan Yenny di tengah dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jawa Timur yang sempat diwarnai perdebatan mengenai mekanisme dan tata tertib pemilihan kepemimpinan PBNU.

Menurut Yenny, para Muktamirin pada dasarnya memahami bahwa pergantian kepemimpinan merupakan bagian yang wajar dalam setiap penyelenggaraan Muktamar. Karena itu, perbedaan pilihan maupun pandangan tidak seharusnya menggeser nilai-nilai dasar dan tujuan besar organisasi.

Tiga Amanah Besar NU

Yenny menekankan sedikitnya terdapat tiga tujuan utama yang harus terus dijaga oleh seluruh elemen Nahdlatul Ulama.

Pertama, mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah sebagai landasan keagamaan warga NU.

Kedua, berkhidmat dan berjuang untuk kepentingan umat serta masyarakat, sehingga keberadaan NU tetap memberikan manfaat nyata di tengah kehidupan sosial.

Ketiga, mempertahankan keutuhan bangsa dan negara sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, ketiga prinsip tersebut jauh lebih fundamental dibandingkan sekadar persoalan siapa yang akan menduduki kursi Ketua Umum PBNU.

Pergantian figur kepemimpinan, kata Yenny, merupakan dinamika organisasi yang pasti terjadi. Namun, jangan sampai kontestasi kepemimpinan justru meninggalkan luka yang berkepanjangan di tubuh organisasi.

Ketum Terpilih Harus Mampu Menyatukan

Di tengah dinamika Muktamar yang sempat memperlihatkan adanya kelompok-kelompok dengan pandangan berbeda, Yenny berharap Ketua Umum PBNU yang nantinya terpilih mampu mengambil posisi sebagai pemersatu.

Ia menilai kepemimpinan PBNU ke depan tidak cukup hanya memiliki legitimasi hasil pemilihan, tetapi juga harus mampu merangkul seluruh kelompok dan mengembalikan energi organisasi kepada tujuan perjuangan NU.

Pesan tersebut menjadi penting karena kompetisi dalam Muktamar dapat melahirkan perbedaan sikap dan pilihan. Namun setelah proses pemilihan selesai, seluruh elemen NU diharapkan kembali berada dalam satu barisan untuk menjalankan khidmah organisasi.

Muktamar boleh menghadirkan perbedaan. Kontestasi boleh berlangsung sengit. Namun ketika kepemimpinan telah ditetapkan, persatuan NU tidak boleh menjadi korban.

Bagi Yenny Wahid, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin PBNU harus mampu membuktikan bahwa kemenangan dalam Muktamar bukan sekadar kemenangan satu kelompok, melainkan momentum untuk menyatukan kembali seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama dan memperkuat khidmah bagi umat, beragama masyarakat, bangsa, dan negara.

(Red/Tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini