Suyudi Ario Seto Menyusul Da’i Bachtiar, Sutanto dan Tito Karnavian. Penunjukan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menambah catatan menarik dalam sejarah pergantian pucuk pimpinan Korps Bhayangkara. Sebelum diajukan sebagai calon Kapolri, Suyudi terlebih dahulu dipercaya memimpin lembaga negara di luar struktur organisasi Polri, yakni Badan Narkotika Nasional (BNN).
Presiden Prabowo Subianto melantik Suyudi sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025, menggantikan Komjen Pol. Marthinus Hukom. Setahun lebih kemudian, namanya diajukan sebagai calon Kapolri untuk menggantikan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.
Pada 1 Oktober 2026, Komisi III DPR RI menyetujui Suyudi sebagai Kapolri secara aklamasi. Persetujuan itu kemudian disahkan dalam Rapat Paripurna DPR RI yang menyetujui pengangkatannya sebagai Kapolri.
Namun, perjalanan Suyudi bukanlah pola yang sama sekali baru.
Catatan sejarah menunjukkan sedikitnya ada tiga Kapolri sebelumnya—Da’i Bachtiar, Sutanto dan Tito Karnavian—yang sebelum menjabat Kapolri juga pernah mendapat penugasan pada lembaga negara di luar struktur utama Polri.
DA’I BACHTIAR: DARI BKNN KE KURSI KAPOLRI
Jenderal Polisi (Purn.) Da’i Bachtiar merupakan salah satu nama yang memiliki pola perjalanan tersebut.
Da’i Bachtiar menjabat Kapolri pada 29 November 2001 hingga 7 Juli 2005. Dalam periode sebelum dan sekitar awal masa kepemimpinannya, ia tercatat sebagai Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN) pada 2001. BNN sendiri mencatat Da’i Bachtiar sebagai Kalakhar BKNN periode 2001.
Artinya, sebelum memimpin Polri, Da’i Bachtiar pernah dipercaya menangani lembaga yang berfokus pada persoalan narkotika.
SUTANTO: PERNAH MEMIMPIN KALAKHAR BNN
Nama berikutnya adalah Jenderal Polisi (Purn.) Sutanto.
Sutanto menjadi Kapolri pada 8 Juli 2005 hingga 30 September 2008. Sebelum menduduki posisi tersebut, ia pernah dipercaya sebagai Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN.
Catatan resmi publikasi BNN menyebut Sutanto sebagai Kalakhar BNN, sementara profil sejarah BNN mencatat Sutanto menjabat posisi tersebut pada 2006.
Catatan penting: Sutanto bukan tercatat sebagai “Kepala BNN” dalam sumber BNN yang ditemukan, melainkan Kalakhar BNN. Karena itu, penyebutan jabatan tersebut perlu dibedakan agar tidak terjadi kekeliruan sejarah.
TITO KARNAVIAN: DARI BNPT, LALU MENJADI KAPOLRI
Pola berbeda terjadi pada Jenderal Polisi (Purn.) Tito Karnavian.
Pada 16 Maret 2016, Tito dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat itu ia sebelumnya menjabat Kapolda Metro Jaya.
Hanya beberapa bulan kemudian, Tito diajukan sebagai calon Kapolri dan akhirnya menjabat Kapolri mulai 14 Juli 2016 hingga 23 Oktober 2019. Daftar resmi Polri mencatat periode tersebut.
Sekretariat Negara juga mencatat bahwa Tito sempat memimpin BNPT sebelum kemudian dikukuhkan sebagai Kapolri.
Dengan demikian, Tito menjadi contoh lain perwira tinggi Polri yang mendapat penugasan pada lembaga negara di luar struktur kepolisian sebelum kembali memimpin institusi Polri.
SUYUDI: DARI BNN, KINI KE KURSI KAPOLRI
Kini pola tersebut kembali terlihat pada Komjen Pol. Suyudi Ario Seto.
Suyudi dilantik sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025. Setelah itu, pada September 2025, ia resmi menyandang pangkat Komjen Pol melalui Korps Raport di Mabes Polri.
Selama memimpin BNN, Suyudi masih tercatat aktif menjalankan tugas hingga proses pencalonannya sebagai Kapolri pada akhir September 2026.
Pada 30 September 2026, DPR menerima surat Presiden Prabowo Subianto mengenai usulan pemberhentian dan pengangkatan Kapolri. Sehari berikutnya, Komisi III menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap Suyudi.
Hasilnya, Komisi III menyetujui Suyudi secara aklamasi. Keputusan tersebut kemudian dibawa ke Rapat Paripurna DPR dan disetujui sebagai Kapolri.
EMPAT NAMA, SATU POLA PERJALANAN
| Nama | Penugasan sebelum Kapolri | Tahun menjadi Kapolri |
|---|---|---|
| Da’i Bachtiar | Kalakhar BKNN | 2001 |
| Sutanto | Kalakhar BNN | 2005 |
| Tito Karnavian | Kepala BNPT | 2016 |
| Suyudi Ario Seto | Kepala BNN | 2026 |
Daftar resmi Polri mencatat Da’i Bachtiar, Sutanto dan Tito Karnavian sebagai Kapolri pada periode masing-masing. Sementara BNN dan pemerintah mencatat penugasan Suyudi di BNN serta perjalanan Tito di BNPT sebelum menjadi Kapolri.
BUKAN SEKADAR PERGANTIAN JABATAN
Empat nama tersebut menunjukkan bahwa dalam sejarah kepemimpinan Polri, penugasan perwira tinggi pada lembaga negara di luar struktur utama kepolisian pernah menjadi bagian dari perjalanan karier sebelum mereka menduduki kursi Kapolri.
Da’i Bachtiar dan Sutanto memiliki jejak penugasan pada lembaga yang menangani narkotika. Tito Karnavian memimpin BNPT sebelum menjadi Kapolri. Kini Suyudi datang dari BNN setelah sekitar satu tahun memimpin lembaga tersebut.
Dengan persetujuan DPR pada 1 Oktober 2026, Suyudi menjadi nama terbaru dalam rangkaian tersebut.
Dari lembaga penanganan narkotika dan terorisme, sejumlah perwira pernah bergerak menuju kursi tertinggi di tubuh Polri. Kini, sejarah itu kembali mencatat nama Suyudi Ario Seto.
(Tim Redaksi MSN)
